Sabtu, 24 September 2016

Kita Ini Siapa?



Assalamu’alaikum!

Hamba Allah. Kita ini hamba Allah ya? Iya. Allah yang menciptakan kita ya? Iya. Ada cerita menarik dibalik pertanyaan saya. Ini soal nazar. Saya belum tau banyak ya soal nazar, jadi maaf apabila ada kesalahan dalam kepenulisan ^^. Jadi, waktu saya masih SMA kayaknya, saya pernah ikut kajian Ustadz Felix Siaw. Beliau memberikan perenungan soal nazar. Banyak diantara kita yang kalau nazar tuh kesannya “mengancam” Allah. Contohnya?. Contohnya begini “Ya Allah, kalau saya punya pesawat jet pas bulan depan, saya bakal shalat lima waktu.” Aneh gak sih dibacanya? Aneh kan?. Kita yang minta sama Allah, tapi kita  yang “galak”. Saya jadi ingat nazar konyol saya waktu duluuuu sekali. Saya nazar kurang lebih gini “Ya Allah kalau saya dapat nilai bagus, saya bakal baca Al – Qur’an 2 lembar.” Lucu kan ya?. Kajian dari Ustadz Felix Siaw membuka pikiran saya soal nazar. Saya seperti di “sentil” soal definisi nazar yang selama ini saya pahami. Saya teringat soal nazar saya yang konyol itu. Bayangin aja, kalau dapat nilai bagus, saya baru baca Al – Qur’an, 2 lembar pula, Vel, Vel -______- Astaghfirullah :’) terus kalau nilai saya nggak bagus, saya gak jadi baca Al – Qur’an gitu? Udah 2 lembar doang, kagak jadi lagi kalau misalnya nilai gak bagus. Padahal di luar sana ada orang – orang yang baca Al – Qur’an lebih dari 2 lembar, bahkan berjuz-juz dan gak minta yang aneh – aneh kayak saya :”).

Contoh diatas lagi. Kalau punya pesawat jet, baru shalat lima waktu?. Halloooooo, emangnya kalau kita gak shalat, Allah rugi? Ya tentu jawabannya enggak. Justru kita yang rugi, masak gara – gara keinginan gak tercapai kita jadi gak mau shalat dan melakukan hal yang mendatangkan pahala? Sayang banget kan?. Nah ini menarik untuk dibahas. Misalnya, kita sekolah nih, peraturan sekolah bilang kalau kita telat, kita dihukum. Terus kalau kita telat, siapa yang rugi? Tentu kita yang rugi, karena kita harus dihukum. Terus misalnya kita bilang gini “Saya gak bakal telat kalau saya jadi juara kelas.” Aneh gak? Aneh. Karena, mau kita telat kek enggak kek, itu tidak akan merugikan pihak Sekolah, karena sekolah telah membuat peraturan yang harus ditaati. Ya, begitulah kira – kira.

Lalu, bagaimana cara bernazar yang benar?. Caranya, sebelum kita menuntut sesuatu, kita harus melaksanakan kewajiban. Kita shalat, ngaji, dan lain – lain, tapi niatnya untuk Allah. Baru deh berserah diri. Kalau keinginan kita tercapai ya Alhamdulillah, kalau nggak ya Alhamdulillah juga karena dapat pembelajaran dan hikmah. Kalau kata Ustadz Yusuf Mansur, semuanya mesti dibawa sujud. Mau ini, itu, minta ke Allah dengan cara “sujud”. Kita ini hanya seorang hamba. Kita yang butuh Allah, bukan Allah yang butuh kita. Semoga kita bisa jadi hamba Allah yang berusaha selalu taat. Aamiin.

NB ; Terima kasih Ustadz Felix Siaw atas ceramahnya yang sudah menyadarkan saya. Terima kasih juga buat Ustadz Yusuf Mansur atas pembelajarannya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar